Monday, December 31, 2018

ZERO WASTE DALAM RUMAH TANGGA

      Wah, rasanya isu pengelolaan sampah di Indonesia selalu menjadi topik pembicaraan yang hangat dibicarakan, serta menjadi pusat perhatian karena sistem pengelolaannya yang masih tradisional. Dikatakan tradisional karena pengelolaan sampah dilakukan dengan sistem kumpul-angkut-buang yang menyebabkan sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengelolaan yang terpadu, sehingga sampah tersebut menimbulkan berbagai penyakit dan kerusakan lingkungan lainnya. Kondisi ini akan semakin memburuk seiring dengan beragamnya aktivitas manusia yang terus menghasilkan lebih banyak sampah hingga melebihi kemampuan alam untuk menyerapnya.
    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), volume sampah di Indonesia pada tahun 2018 tercatat mencapai 66,5 juta ton dengan persentase komposisi sampah terbanyak adalah sampah sisa makanan (93,07%), diikuti oleh sampah plastik (39,78%) dan sampah kertas (30,06%). Sumber sampah yang menyumbangkan terbanyak adalah rumah tangga dengan persentase 63,95%. Pemerintah menargetkan dapat mengurangi sampah mencapai 30% dan pada tahun 2025 dapat mencapai angka 70%. Target ini tak akan tercapai tanpa kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga.
     Lalu, bagaimana konsep pengelolaan yang dapat kita gunakan untuk mengatasi masalah tersebut? Konsep yang dapat digunakan dalam manajemen pengelolaan sampah adalah zero waste. Zero waste merupakan gaya hidup dengan mengurangi sampah seminimal mungkin setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan dari racun limbah yang terbuang dan dapat menghilangkan bahaya yang mengancam kesehatan manusia, hewan atau tanaman. Selain itu, masyarakat yang menerapkan zero waste dapat membantu pengurangan wilayah tempat TPA, ancaman polusi serta ongkos angkut sampah. Langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat dalam ber-zero waste adalah mengurangi sampah plastik/kertas dan mendaur ulang sampah sisa makanan.
        Jika kita amati, hampir semua produk yang kita gunakan berbahan dasar plastik dari mulai kemasan makanan/minuman, kantong belanja, dan berbagai kemasan produk lainnya. Benar kan? Seperti yang kita ketahui, plastik memiliki sifat yang tahan air, praktis, namun sulit terurai di alam. Sehingga plastik dalam jumlah yang besar dapat merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan makhluk hidup.
Nah, beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik diantaranya pertama, ketika berbelanja di mana saja sedia tas kanvas atau katun untuk membawa barang belanjaan kita. Selain ramah lingkungan, tas ini dapat dipakai berulang-ulang dan lebih trendi. Untuk membiasakan penggunaan tas non plastik, kita dapat menyimpan tas kanvas/katun di dalam kendaraan atau di rumah.


  Kedua, mengurangi pembelian makanan/minuman kemasan dengan membawa kotak bekal makanan dan tumbler air minum sendiri dari rumah. Kotak bekal makanan dapat digunakan saat kita membeli makanan di warung makan dengan cara menyerahkan kotak bekal tersebut kepada penjaga warung makan. Sedangkan tumbler air minum bertujuan untuk mencegah timbunan botol minum kemasan sekaligus dapat menghemat uang yang seharusnya digunakan untuk membeli botol minum kemasan tersebut. Usahakan yaa untuk melengkapi kotak bekal makanan yang kita bawa dengan sendok dan garpu untuk menghindari pemberian sendok dan garpu plastik dari penjual makanan.


       Ketiga, sisa makanan yang biasanya terdiri dari sisa nasi, kulit bawang, sayur-sayuran, buah-buahan, dan dedaunan yang berguguran di halaman rumah jangan langsung dibuang begitu saja. Mengapa jangan dibuang? Karena walau jenis sampah ini mudah terurai di alam, namun jika diolah lebih lanjut dapat menghasilkan nilai yang bermanfaat loh. Sampah ini bisa kita olah menjadi pupuk kompos. Bahan-bahan yang diperlukan hanya wadah dengan kapasitas ± 50 liter dan sampah organik (sisa makanan). Caranya adalah sampah dicampurkan dengan tanah kemudian biarkan terurai secara alami selama beberapa bulan. Jika ingin lebih cepat, bisa ditambahkan bioaktivator yang banyak dijual dipasaran. Manfaat dari pupuk kompos ini mengurangi sampah organik, lebih ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi jika diperjualbelikan.


     Langkah-langkah konsep zero waste diatas sangat mudah diterapkan dalam keluarga atau rumah tangga. Namun dalam penerapan ini perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana melakukan konsep zero waste. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam penggunaan plastik dan cara mendaur ulang sampah organik. Edukasi tersebut juga mengingatkan masyarakat akan bahaya dari menghasilkan sampah secara terus menerus yang dapat merusak lingkungan sekitarnya.
Yuk mulai dari sekarang kita tanamkan gaya hidup zero waste untuk menyelamatkan lingkungan bagi anak cucu kita !

Saturday, November 3, 2018

PERAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DALAM PENCEGAHAN STUNTING

  Stunting merupakan salah satu masalah gizi anak yang sedang muncul dan berkembang di tengah masyarakat. Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak yang gagal akibat dari kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama, sehingga tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kekurangan gizi ini terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak masa kehamilan (janin masih dalam kandungan selama 9 bulan atau 270 hari), masa bayi hingga anak berusia 2 tahun. Dalam periode 1000 hari pertama kehidupan, terjadi proses pembentukan dan perkembangan yang sangat cepat. Hal ini sangat menentukan status kesehatan fisik kesehatan dan kecerdasan anak pada masa yang akan datang.
  Keadaan stunting disebabkan oleh multifaktor yang saling berkaitan satu sama lain, sehingga tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi pada saat kehamilan atau anak-anak saja. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya stunting diantaranya pola asuh yang kurang baik, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya stunting diantaranya terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Maka, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan stunting adalah pola asuh dan pola makan yang kurang baik serta kebersihan sanitasi yang buruk.
  Sanitasi yang buruk menjadi faktor penyebab stunting karena berkaitan dengan terjadinya penyakit infeksi. Infeksi dapat menyebabkan tubuh mengambil zat gizi yang sebenarnya diperlukan untuk pertumbuhan sehingga dialihkan untuk perlawanan tubuh menghadapi patogen. Akibatnya zat gizi sulit diserap dan pertumbuhan menjadi tidak optimal. Jika terjadi infeksi kronis, maka pertumbuhan anak akan terganggu khususnya pertumbuhan linier tubuh. Infeksi dapat terjadi apabila ibu hamil dan balita mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Tingginya kontaminasi bakteri dalam makanan atau minuman dapat menyebabkan penyakit diare dan infeksi cacing usus. Kontaminasi bakteri terjadi melalui peralatan rumah tangga yang tidak dicuci bersih, tidak mencuci tangan sebelum makan, kurangnya akses terhadap air bersih, buang air besar di jamban yang kurang bersih, dan tidak menjaga kesehatan lingkungan.
  Pencegahan stunting bukan hanya menjaga asupan nutrisi yang ideal, namun perlu ditambah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan setiap keluarga atau rumah tangga. Penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari diantaranya mencuci tangan sebelum makan, meminum air yang bersih dan aman, mencuci peralatan rumah tangga (peralatan dapur), membersihkan diri setelah buang air besar atau kecil, serta memiliki jamban yang bersih dan sehat. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan  pastikan buang air besar/kecil di jamban yang bersih dan sehat. Langkah ini sangat sederhana, namun banyak orang yang masih malas melakukannya termasuk ibu hamil dan anak-anak. Manfaat dari cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan buang air besar/kecil di jamban bukan hanya tangan dan lingkungan menjadi bersih, tetapi juga terbebas dari bakteri penyebab penyakit infeksi.
  Perilaku mencuci tangan yang benar hanya membutuhkan waktu 60 detik dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. Waktu-waktu penting untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) yaitu sebelum makan, sesudah buang air besar/kecil, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan. Langkah-langkah cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang benar menurut Kementerian Kesehatan RI adalah sebagai berikut:
1. Basahi tangan seluruhnya dengan air bersih mengalir.
2. Gosok sabun ke telapak tangan, punggung tangan dan sela jari-jari.
3.  Bersihkan bagian bawah kuku-kuku.
4.  Bilas tangan dengan air bersih mengalir.
5. Keringkan tangan dengan handuk atau dengan udara/diinginkan.

   Langkah yang kedua adalah buang air besar/kecil di jamban yang bersih dan sehat. Manfaat menggunakan jamban sehat diantaranya lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau; tidak mencemari sumber air dan tanah; dan tidak mengundang lalat,kecoa, atau serangga yang dapat menularkan penyakit. Dengan menggunakan jamban sehat, berbagai penyakit infeksi akan terhindarkan seperti penyakit diare, kolera, disentri, tifus, cacingan, dan infeksi saluran pencernaan lainnya.
    Upaya pencegahan stunting diatas bukan hanya dilakukan oleh ibu atau anak-anak, namun setiap individu rumah tangga yang terlibat harus melakukan upaya tersebut. Anak-anak yang terlahir sehat akan tumbuh menjadi generasi yang menunjang kemajuan pembangunan bangsa. Sebaliknya, anak-anak yang terlahir dengan kekurangan gizi seperti stunting, secara luas akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan karena di masa depan produktivitas kerjanya rendah. Oleh karena itu, salah satu pencegahan stunting melalui perbaikan sanitasi yang bersih dan sehat sangat penting untuk melahirkan generasi bangsa yang sehat, cerdas, berprestasi, dan produktif di masa yang akan datang.

Friday, November 2, 2018

PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING PADA ANAK USIA SEKOLAH

Masalah tumbuh kembang anak merupakan masalah yang selalu menjadi topik pembicaraan yang menarik. Hal ini karena semua orang dewasa terlibat baik secara langsung maupun tidak. Salah satunya adalah orangtua dan guru yang secara langsung memiliki kewajiban untuk mengembangkan dan mendidik anak-anak, sehingga pada akhirnya dapat menjadi orang dewasa yang sehat secara fisik dan psikis.
Beberapa masalah gizi yang sering timbul pada kelompok usia anak sekolah diantaranya anemia defisiensi gizi, penyakit defisiensi yodium, karies gigi, obesitas, dan sebagainya. Salah satu masalah gizi anak yang sedang muncul dan berkembang di tengah masyarakat adalah stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya stunting adalah faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Ibu pada masa remaja, kehamilan dan laktasi dengan kekurangan nutrisi, maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tubuh dan otak anak. Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya stunting diantaranya terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi.
Stunting (tubuh yang pendek) menggambarkan keadaan gizi yang sudah berjalan lama dan memerlukan waktu bagi anak untuk berkembang serta pulih kembali. Beberapa anak memperlihatkan perubahan perilaku seperti tampak lebih apatis, tidak begitu aktif, dan menjadi rewel jika terganggu. Mereka juga memperlihatkan penurunan respons orientasi terhadap rangsangan pada pendengaran. Selain itu, anak-anak dengan stunting memiliki tingkat perkembangan yang buruk. Perilaku-perilaku lain seperti frekuensi menangis yang meningkat, tingkat aktivitas yang lebih rendah, kurang dalam berkomunikasi, memiliki ekspresi yang tidak begitu gembira, dan cenderung ingin selalu berada dekat ibu. 
Gerakan perbaikan gizi kepada kelompok 1000 hari pertama kehidupan adalah salah satu upaya secara nasional dalam rangka memperkuat komitmen dan rencana aksi percepatan gizi. Gerakan ini dikenal dengan Scaling Up Nutrition (SUN). Gerakan SUN merupakan upaya baru untuk menghilangkan kekurangan gizi dalam segala bentuknya. Prinsip gerakan ini adalah semua orang memiliki hak atas pangan dan gizi yang baik. Hal ini merupakan suatu yang unik karena melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda baik pemerintah, swasta, LSM, ilmuwan, masyarakat sipil, dan PBB secara bersama-sama melakukan tindakan kolektif untuk peningkatan gizi. Intervensi yang dilakukan pada SUN adalah intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Kegiatan SUN umumnya dilakukan pada sektor kesehatan seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet Fe bagi ibu hamil, promosi ASI eksklusif, promosi MP-ASI, dan sebagainya. 
Penanggulangan stunting juga difokuskan pada masyarakat ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan untuk memastikan bahwa kesenjangan yang terjadi ditangani dengan mengutamakan gizi pada kelompok masyarakat ekonomi rendah. Intervensi lainnya yaitu menekankan pada pemberian imunisasi, peningkatan pemberian ASI eksklusif, dan akses makanan yang kaya akan gizi di kalangan anak-anak melalui intervensi berbasis masyarakat. Kementerian Kesehatan RI telah melakukan upaya intervensi gizi spesifik meliputi suplementasi gizi makro dan mikro, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, fortifikasi, kampanye gizi seimbang, pelaksanaan kelas ibu hamil, pemberian obat cacing, penanganan kekurangan gizi, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Referensi:
Gibney M J, dkk. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Terjemahan Andry Hartono. Jakarta: EGC.
Kemenkes RI. 2018. Penurunan Stunting Jadi Fokus Pemerintah. http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2018. 
Kemenkes RI. 2018. Penyebab Stunting Pada Anak. http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2018.