Wah, rasanya isu pengelolaan sampah di Indonesia selalu menjadi topik pembicaraan yang hangat dibicarakan, serta menjadi pusat perhatian karena sistem pengelolaannya yang masih tradisional. Dikatakan tradisional karena pengelolaan sampah dilakukan dengan sistem kumpul-angkut-buang yang menyebabkan sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengelolaan yang terpadu, sehingga sampah tersebut menimbulkan berbagai penyakit dan kerusakan lingkungan lainnya. Kondisi ini akan semakin memburuk seiring dengan beragamnya aktivitas manusia yang terus menghasilkan lebih banyak sampah hingga melebihi kemampuan alam untuk menyerapnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), volume sampah di Indonesia pada tahun 2018 tercatat mencapai 66,5 juta ton dengan persentase komposisi sampah terbanyak adalah sampah sisa makanan (93,07%), diikuti oleh sampah plastik (39,78%) dan sampah kertas (30,06%). Sumber sampah yang menyumbangkan terbanyak adalah rumah tangga dengan persentase 63,95%. Pemerintah menargetkan dapat mengurangi sampah mencapai 30% dan pada tahun 2025 dapat mencapai angka 70%. Target ini tak akan tercapai tanpa kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga.
Lalu, bagaimana konsep pengelolaan yang dapat kita gunakan untuk mengatasi masalah tersebut? Konsep yang dapat digunakan dalam manajemen pengelolaan sampah adalah zero waste. Zero waste merupakan gaya hidup dengan mengurangi sampah seminimal mungkin setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan lingkungan dari racun limbah yang terbuang dan dapat menghilangkan bahaya yang mengancam kesehatan manusia, hewan atau tanaman. Selain itu, masyarakat yang menerapkan zero waste dapat membantu pengurangan wilayah tempat TPA, ancaman polusi serta ongkos angkut sampah. Langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat dalam ber-zero waste adalah mengurangi sampah plastik/kertas dan mendaur ulang sampah sisa makanan.
Jika kita amati, hampir semua produk yang kita gunakan berbahan dasar plastik dari mulai kemasan makanan/minuman, kantong belanja, dan berbagai kemasan produk lainnya. Benar kan? Seperti yang kita ketahui, plastik memiliki sifat yang tahan air, praktis, namun sulit terurai di alam. Sehingga plastik dalam jumlah yang besar dapat merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan makhluk hidup.
Nah, beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik diantaranya pertama, ketika berbelanja di mana saja sedia tas kanvas atau katun untuk membawa barang belanjaan kita. Selain ramah lingkungan, tas ini dapat dipakai berulang-ulang dan lebih trendi. Untuk membiasakan penggunaan tas non plastik, kita dapat menyimpan tas kanvas/katun di dalam kendaraan atau di rumah.
Kedua, mengurangi pembelian makanan/minuman kemasan dengan membawa kotak bekal makanan dan tumbler air minum sendiri dari rumah. Kotak bekal makanan dapat digunakan saat kita membeli makanan di warung makan dengan cara menyerahkan kotak bekal tersebut kepada penjaga warung makan. Sedangkan tumbler air minum bertujuan untuk mencegah timbunan botol minum kemasan sekaligus dapat menghemat uang yang seharusnya digunakan untuk membeli botol minum kemasan tersebut. Usahakan yaa untuk melengkapi kotak bekal makanan yang kita bawa dengan sendok dan garpu untuk menghindari pemberian sendok dan garpu plastik dari penjual makanan.
Ketiga, sisa makanan yang biasanya terdiri dari sisa nasi, kulit bawang, sayur-sayuran, buah-buahan, dan dedaunan yang berguguran di halaman rumah jangan langsung dibuang begitu saja. Mengapa jangan dibuang? Karena walau jenis sampah ini mudah terurai di alam, namun jika diolah lebih lanjut dapat menghasilkan nilai yang bermanfaat loh. Sampah ini bisa kita olah menjadi pupuk kompos. Bahan-bahan yang diperlukan hanya wadah dengan kapasitas ± 50 liter dan sampah organik (sisa makanan). Caranya adalah sampah dicampurkan dengan tanah kemudian biarkan terurai secara alami selama beberapa bulan. Jika ingin lebih cepat, bisa ditambahkan bioaktivator yang banyak dijual dipasaran. Manfaat dari pupuk kompos ini mengurangi sampah organik, lebih ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi jika diperjualbelikan.
Langkah-langkah konsep zero waste diatas sangat mudah diterapkan dalam keluarga atau rumah tangga. Namun dalam penerapan ini perlu adanya edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana melakukan konsep zero waste. Hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam penggunaan plastik dan cara mendaur ulang sampah organik. Edukasi tersebut juga mengingatkan masyarakat akan bahaya dari menghasilkan sampah secara terus menerus yang dapat merusak lingkungan sekitarnya.
Yuk mulai dari sekarang kita tanamkan gaya hidup zero waste untuk menyelamatkan lingkungan bagi anak cucu kita !


