Saturday, November 3, 2018

PERAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DALAM PENCEGAHAN STUNTING

  Stunting merupakan salah satu masalah gizi anak yang sedang muncul dan berkembang di tengah masyarakat. Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak yang gagal akibat dari kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama, sehingga tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kekurangan gizi ini terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak masa kehamilan (janin masih dalam kandungan selama 9 bulan atau 270 hari), masa bayi hingga anak berusia 2 tahun. Dalam periode 1000 hari pertama kehidupan, terjadi proses pembentukan dan perkembangan yang sangat cepat. Hal ini sangat menentukan status kesehatan fisik kesehatan dan kecerdasan anak pada masa yang akan datang.
  Keadaan stunting disebabkan oleh multifaktor yang saling berkaitan satu sama lain, sehingga tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi pada saat kehamilan atau anak-anak saja. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya stunting diantaranya pola asuh yang kurang baik, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya stunting diantaranya terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi. Maka, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan stunting adalah pola asuh dan pola makan yang kurang baik serta kebersihan sanitasi yang buruk.
  Sanitasi yang buruk menjadi faktor penyebab stunting karena berkaitan dengan terjadinya penyakit infeksi. Infeksi dapat menyebabkan tubuh mengambil zat gizi yang sebenarnya diperlukan untuk pertumbuhan sehingga dialihkan untuk perlawanan tubuh menghadapi patogen. Akibatnya zat gizi sulit diserap dan pertumbuhan menjadi tidak optimal. Jika terjadi infeksi kronis, maka pertumbuhan anak akan terganggu khususnya pertumbuhan linier tubuh. Infeksi dapat terjadi apabila ibu hamil dan balita mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Tingginya kontaminasi bakteri dalam makanan atau minuman dapat menyebabkan penyakit diare dan infeksi cacing usus. Kontaminasi bakteri terjadi melalui peralatan rumah tangga yang tidak dicuci bersih, tidak mencuci tangan sebelum makan, kurangnya akses terhadap air bersih, buang air besar di jamban yang kurang bersih, dan tidak menjaga kesehatan lingkungan.
  Pencegahan stunting bukan hanya menjaga asupan nutrisi yang ideal, namun perlu ditambah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan setiap keluarga atau rumah tangga. Penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari diantaranya mencuci tangan sebelum makan, meminum air yang bersih dan aman, mencuci peralatan rumah tangga (peralatan dapur), membersihkan diri setelah buang air besar atau kecil, serta memiliki jamban yang bersih dan sehat. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan  pastikan buang air besar/kecil di jamban yang bersih dan sehat. Langkah ini sangat sederhana, namun banyak orang yang masih malas melakukannya termasuk ibu hamil dan anak-anak. Manfaat dari cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan buang air besar/kecil di jamban bukan hanya tangan dan lingkungan menjadi bersih, tetapi juga terbebas dari bakteri penyebab penyakit infeksi.
  Perilaku mencuci tangan yang benar hanya membutuhkan waktu 60 detik dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. Waktu-waktu penting untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) yaitu sebelum makan, sesudah buang air besar/kecil, sebelum memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan. Langkah-langkah cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang benar menurut Kementerian Kesehatan RI adalah sebagai berikut:
1. Basahi tangan seluruhnya dengan air bersih mengalir.
2. Gosok sabun ke telapak tangan, punggung tangan dan sela jari-jari.
3.  Bersihkan bagian bawah kuku-kuku.
4.  Bilas tangan dengan air bersih mengalir.
5. Keringkan tangan dengan handuk atau dengan udara/diinginkan.

   Langkah yang kedua adalah buang air besar/kecil di jamban yang bersih dan sehat. Manfaat menggunakan jamban sehat diantaranya lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau; tidak mencemari sumber air dan tanah; dan tidak mengundang lalat,kecoa, atau serangga yang dapat menularkan penyakit. Dengan menggunakan jamban sehat, berbagai penyakit infeksi akan terhindarkan seperti penyakit diare, kolera, disentri, tifus, cacingan, dan infeksi saluran pencernaan lainnya.
    Upaya pencegahan stunting diatas bukan hanya dilakukan oleh ibu atau anak-anak, namun setiap individu rumah tangga yang terlibat harus melakukan upaya tersebut. Anak-anak yang terlahir sehat akan tumbuh menjadi generasi yang menunjang kemajuan pembangunan bangsa. Sebaliknya, anak-anak yang terlahir dengan kekurangan gizi seperti stunting, secara luas akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan karena di masa depan produktivitas kerjanya rendah. Oleh karena itu, salah satu pencegahan stunting melalui perbaikan sanitasi yang bersih dan sehat sangat penting untuk melahirkan generasi bangsa yang sehat, cerdas, berprestasi, dan produktif di masa yang akan datang.

Friday, November 2, 2018

PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGAN STUNTING PADA ANAK USIA SEKOLAH

Masalah tumbuh kembang anak merupakan masalah yang selalu menjadi topik pembicaraan yang menarik. Hal ini karena semua orang dewasa terlibat baik secara langsung maupun tidak. Salah satunya adalah orangtua dan guru yang secara langsung memiliki kewajiban untuk mengembangkan dan mendidik anak-anak, sehingga pada akhirnya dapat menjadi orang dewasa yang sehat secara fisik dan psikis.
Beberapa masalah gizi yang sering timbul pada kelompok usia anak sekolah diantaranya anemia defisiensi gizi, penyakit defisiensi yodium, karies gigi, obesitas, dan sebagainya. Salah satu masalah gizi anak yang sedang muncul dan berkembang di tengah masyarakat adalah stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya stunting adalah faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik, rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani. Ibu pada masa remaja, kehamilan dan laktasi dengan kekurangan nutrisi, maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tubuh dan otak anak. Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya stunting diantaranya terjadi infeksi pada ibu, kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak kelahiran anak yang pendek, dan hipertensi.
Stunting (tubuh yang pendek) menggambarkan keadaan gizi yang sudah berjalan lama dan memerlukan waktu bagi anak untuk berkembang serta pulih kembali. Beberapa anak memperlihatkan perubahan perilaku seperti tampak lebih apatis, tidak begitu aktif, dan menjadi rewel jika terganggu. Mereka juga memperlihatkan penurunan respons orientasi terhadap rangsangan pada pendengaran. Selain itu, anak-anak dengan stunting memiliki tingkat perkembangan yang buruk. Perilaku-perilaku lain seperti frekuensi menangis yang meningkat, tingkat aktivitas yang lebih rendah, kurang dalam berkomunikasi, memiliki ekspresi yang tidak begitu gembira, dan cenderung ingin selalu berada dekat ibu. 
Gerakan perbaikan gizi kepada kelompok 1000 hari pertama kehidupan adalah salah satu upaya secara nasional dalam rangka memperkuat komitmen dan rencana aksi percepatan gizi. Gerakan ini dikenal dengan Scaling Up Nutrition (SUN). Gerakan SUN merupakan upaya baru untuk menghilangkan kekurangan gizi dalam segala bentuknya. Prinsip gerakan ini adalah semua orang memiliki hak atas pangan dan gizi yang baik. Hal ini merupakan suatu yang unik karena melibatkan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda baik pemerintah, swasta, LSM, ilmuwan, masyarakat sipil, dan PBB secara bersama-sama melakukan tindakan kolektif untuk peningkatan gizi. Intervensi yang dilakukan pada SUN adalah intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Kegiatan SUN umumnya dilakukan pada sektor kesehatan seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet Fe bagi ibu hamil, promosi ASI eksklusif, promosi MP-ASI, dan sebagainya. 
Penanggulangan stunting juga difokuskan pada masyarakat ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan untuk memastikan bahwa kesenjangan yang terjadi ditangani dengan mengutamakan gizi pada kelompok masyarakat ekonomi rendah. Intervensi lainnya yaitu menekankan pada pemberian imunisasi, peningkatan pemberian ASI eksklusif, dan akses makanan yang kaya akan gizi di kalangan anak-anak melalui intervensi berbasis masyarakat. Kementerian Kesehatan RI telah melakukan upaya intervensi gizi spesifik meliputi suplementasi gizi makro dan mikro, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, fortifikasi, kampanye gizi seimbang, pelaksanaan kelas ibu hamil, pemberian obat cacing, penanganan kekurangan gizi, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Referensi:
Gibney M J, dkk. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Terjemahan Andry Hartono. Jakarta: EGC.
Kemenkes RI. 2018. Penurunan Stunting Jadi Fokus Pemerintah. http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2018. 
Kemenkes RI. 2018. Penyebab Stunting Pada Anak. http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal 17 Oktober 2018.